https://ejournal.iainurulhuda.ac.id/index.php/qudwah/issue/feedAl-Qudwah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam2025-11-17T07:30:05+07:00Fathor Rosifathorrosy1991stainh@gmail.comOpen Journal SystemsAl-Qudwah : Journal of Islamic Broadcasting and Communication https://ejournal.iainurulhuda.ac.id/index.php/qudwah/article/view/249Analisis Komparatif Pemikiran Hasan Hanafi tentang Islam Kiri dan Muhammad Abid al-Jabiri tentang Dekonstruksi Nalar Arab2025-07-23T08:48:19+07:00Muhammad Taufiqmuh.taufiqnh1505@gmail.comAchmad Nuranur.fikr83@gmail.com<p><em>Dunia Islam menghadapi krisis pemikiran yang serius akibat tantangan modernitas, globalisasi, dan dominasi Barat, yang menimbulkan ketidakseimbangan antara warisan tradisional dan kebutuhan reformasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Hasan Hanafi tentang Islam Kiri dan Muhammad Abid al-Jabiri mengenai dekonstruksi nalar Arab dalam rangka mencari solusi terhadap krisis pemikiran tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan filsafat kritis-hermeneutik, menganalisis teks-teks utama kedua tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya mengusung gagasan pembaruan pemikiran Islam melalui pendekatan berbeda: Hanafi menekankan praksis sosial dan ideologis, sedangkan al-Jabiri menitikberatkan pada reformasi epistemologis dan rasionalitas. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah mengkaji sinergi kedua pendekatan dalam konteks implementasi di masyarakat serta pengaruhnya terhadap dinamika pemikiran Islam kontemporer di berbagai wilayah.</em></p> <p><sub> </sub></p>2025-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Muhammad Taufiq, Achmad Nurhttps://ejournal.iainurulhuda.ac.id/index.php/qudwah/article/view/253Seyyed Hossein Nasr's Thought on the Epistemology of Knowledge and Murtadha Muthahhari's Philosophy of Prophethood2025-07-23T08:52:15+07:00Adi Susiantoadisusianto46@gmail.com<p><em>This study aims to analyze and compare Seyyed Hossein Nasr’s thought on the epistemology of knowledge and Murtadha Muthahari’s thought on prophetic philosophy. The study is motivated by the crisis of modern science, which tends to be secular, reductionist, and detached from revelation, values, and spiritual dimensions. This research employs a qualitative approach using library research. Data were collected from primary works by Nasr and Muthahari, supported by secondary sources such as journal articles, books, and relevant previous studies. Data analysis was conducted descriptively and analytically through thematic, hermeneutic, and comparative techniques to identify similarities, differences, and possible synthesis between the two thinkers. The findings show that Nasr emphasizes an integral epistemology that connects revelation, metaphysical wisdom, and spiritual experience as the basis of sacred knowledge, whereas Muthahari places revelation and prophethood as the primary sources of knowledge that guide reason, intuition, and morality. Both thinkers reject materialist reductionism and affirm the importance of integrating revelation and reason within Islamic knowledge. The study concludes that Nasr’s and Muthahari’s ideas can be synthesized into a complementary model of Islamic epistemology, in which revelation serves as the normative orientation and reason functions as a valid analytical instrument. This study recommends the development of Islamic education curricula that integrate philosophy of science, spirituality, and scientific ethics so that knowledge remains connected to its transcendent purpose.</em></p>2025-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Adi Susiantohttps://ejournal.iainurulhuda.ac.id/index.php/qudwah/article/view/290Dakwah di Era Digital: Representasi Budaya Islam Baru Melalui Platform TikTok2025-11-17T07:30:05+07:00Zidny fahmi syakirzidnyfahmi415@upi.edu<p>Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola dakwah Islam, salah satunya melalui platform media sosial TikTok yang kini populer di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi budaya Islam baru melalui praktik dakwah digital di TikTok dengan menggunakan metode studi literatur. Berbagai sumber akademik, jurnal, dan artikel terkini ditelaah untuk memahami strategi komunikasi, bentuk representasi, serta dampak dakwah digital terhadap masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok menghadirkan ruang dakwah yang kreatif, interaktif, dan mudah diakses dengan memanfaatkan video singkat, bahasa ringan, visual menarik, musik populer, hingga tren digital. Fenomena ini melahirkan budaya Islam baru yang lebih dinamis, inklusif, dan kontekstual dengan kehidupan modern, sekaligus menandai pergeseran otoritas dari ulama tradisional ke kreator Muslim digital. Generasi muda tidak hanya menjadi audiens, tetapi juga produsen konten dakwah, sehingga terbentuk partisipasi aktif dalam penyebaran nilai keislaman. Meski demikian, terdapat tantangan serius seperti risiko penyederhanaan pesan, potensi konten tidak kredibel, hingga komersialisasi agama. Oleh karena itu, dakwah digital melalui TikTok dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan yang memerlukan literasi digital, etika dakwah, dan pengawasan yang memadai agar substansi ajaran Islam tetap terjaga. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis pada kajian komunikasi Islam dan budaya digital, serta secara praktis memberi panduan bagi dai, akademisi, dan masyarakat dalam mengembangkan strategi dakwah yang efektif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Dakwah Digital; TikTok; Budaya Islam Baru.</p> <p> </p>2025-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Zidny fahmi syakirhttps://ejournal.iainurulhuda.ac.id/index.php/qudwah/article/view/192Strategi Dakwah Habib Muhammad Taufiq al-Djufri melalui Kaderisasi Da’i2024-12-19T16:24:05+07:00Siti Nurfadilahdyladink99@gmail.com<p><em>Habib Muhammad Taufiq bin Musthofa al-Jufri made efforts to develop da'wah by using a da'wah strategy through da'i cadre formation. For him, holding a cadre formation is a must for his students. Integration in the Nurul Huda Islamic Boarding School has various Islamic boarding school curricula that lead to a cadre formation process that can develop and hone the ability to preach. </em><em>This article tries to dig deeper into how the construction and implementation of Habib Muhammad Taufiq al-Djufri's da'wah through da'i cadre formation. With a qualitative approach and descriptive type, it is considered the most relevant research method to explore and describe the cadre formation phenomenon that occurs at the Nurul Huda Islamic Boarding School. </em><em>The result is that Habib Muhammad Taufiq al-Jufri's da'wah strategy is to carry out da'i construction, namely instilling Learning to know (learning to know), learning to do (learning to do), learning to be (learning to become), and learning to live together (learning to live together). Meanwhile, the implementation of da'i cadreship is through the practice of teaching TABA (Tajwid and Foreign Languages).</em></p>2025-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Siti Nurfadilah